First Impression is Important

Aku nggak tahu judul itu cocok nggak buat tulisanku kali ini, tapi entah kenapa aku pengen pilih judul itu.


Jadi, awalnya pas aku buka akun IGku, muncul postingan dari illona_ona, mama Bella, seorang penderita pffeifer syndrome, penyakit langka yang memengaruhi bentuk tulang tengkorak kepala.

Sudah lama aku nggak ngikutin akunnya, dan ternyata Bella udah punya adik, namanya Hassan. MasyaAllah, tabarakallah..
Mereka sepertinya masih tinggal di USA, tentu saja masih sambil terapi untuk Bella.
Aku scroll lagi dan menemukan kalau Bella sudah bisa mengetik di komputernya.
MasyaAllah, pastilah perjuangan banget bisa sampai ke titik ini.
Jujur, saya sendiri salut sama kedua orang tuanya Bella. Tentu saja ini tantangan yang nggak mudah, tapi mereka juga pasti berusaha yang terbaik juga buat buah hati mereka.

Banyak apresiasi positif dari netizen atas postingan tentang Bella di akun mama Bella yang dibuka untuk publik itu.
Aku mengamati beberapa postingan yang ada foto Bella, aku mengamati baju Bella bagus-bagus.
Yang ada dipikiranku saat itu adalah, betapa beruntungnya Bella, punya orang tua yang support segalanya. Kasih sayang, fasilitas, perhatian. Mereka tinggal di luar negeri, USA yang pastinya punya peralatan medis yang canggih dan mendukung. Ditambah lingkungan yang pasti lebih support dan open minded terkadang daripada lingkungan di "Ina"
Karena sebenarnya, banyak Bella-Bella yang ada di sekitar kita, namun mereka tidak terekspos media karena kurangnya fasilitas dan faktor lain yang mendukung (utamanya, dalam hal ekonomi).
Biasanya, yang serupa Bella-Bella itu sekilas kulihat di postingan akun sosial galang dana macam KitaBisa, ACT, dan semacamnya.
Mereka yang qadarullah diberi nikmat yang lain daripada orang normal pada umumnya.
Ingatanku kemudian melayang pada sebuah tontonan yang pernah kulihat beberapa tahun lalu di televisi, entah channel apa tapi  bukan TV lokal, sepertinya kalau nggak salah ingat itu channel tv luar dr indihome, sebelum akun IG, TikTok dan lainnya mulai merajai medsos.

Jadi, acara itu merupakan sebuah penelitian sosial, mirip-mirip acara prank yang bertujuan "mengerjai" para target mereka, biasanya masyarakat sekitar.

Nah, acara ini juga sama, tapi tujuannya bukan mengerjai masyarakat, melainkan melihat atau menilai respon masyarakat terhadap sesuatu hal yang mereka ujikan.

Pada sesi kali ini, mereka menguji respon masyarakat terhadap seorang anak kecilz perempuan berusia sekitar 4-5 tahunan.

SCENE 1
Anak perempuan itu didandani dengan baju bagus, bermerk, mahal, bersih. Rambut sebahunya disisir rapi. Lalu, anak itu diminta berdiri di pingir jalan yang ramai orang lalu lalang, mungkin kalau nggak jam berangkat kerja, ya jam pulang kerja, atau di dekat pusat perbelanjaan. Aku agak lupa setting tempatnya.
Respon orang yang lalu lalang tersebut, sebagian berhenti di dekat anak itu, menyadari bahwa anak itu sedang berhenti sendirian. Anak itu diam saja, tidak menangis. Ekspresinya datar saja, ya agak sedikit takut mungkin iya.
Beberapa orang terlihat menanyai anak itu, mungkin bertanya di mana orang tuanya? Sedang apa ia di sana, karena rekaman kamera tanpa suara.

SCENE 2
Di tempat/ spot jalan yang sama, anak iu berdiri di sana. Namun, kali ini penampilannya berbeda. Ia didandani seperti anak pemulung, dengan baju yang kusam, kotor, robek di beberapa tempat, mukanya tampak cemong atau kotor, terkesan tidak mandi selama beberapa hari. Rambutnya juga awut-awutan merah tak terurus. Aku tidak tahu apakah scene 2 ini beda hari atau beda jam saja, tapi sepertinya kalau tak salah ingat, beda waktu saja dalam sehari.
Apa reaksi dari orang-orang yang berlalu lalang itu? Sebagian dari mereka bahkan seperti tak ada yang menyadari keberadaan anak itu di sana. Tentu saja beberapa mereka melihat anak perempuan itu berdiri diam di sana sendirian, tapi demi melihat penampilan anak itu, sepertinya kebanyakan masyarakat enggan untuk sekedar bertanya. Mereka mungkin berasumsi, paling anak pemulung, pengemis atau semacamnya, begitu ya.
Hanya sakitar satu, dua orang, itupun seorang nenek yang menghampiri anak perempuan itu, sepertinya memastikan kalau ia baik-baik saja.

Setelahnya, berganti ulasan dari pakar tentang kedua scene tadi, tapi aku benar-benar lupa sama sekali apa yang mereka ulas. Hanya saja, kedua scene itu masih melekat di ingatanku sampai sekarang.
Itu settingannya di luar negeri ya, bukan di Indonesia dan sepertinya di negara bagian Amerika/Eropa, bukan di Asia.
Bagaimana kalau settingnya di Indonesia? Sepertinya, responnya juga akan serupa ya.
Kalau aku sendiri melihat seorang anak berbaju bagus berdiri sendirian di pinggir jalan untuk waktu yang cukup lama, instingku secara spontan pasti ingin bertanya, anak siapa ini? Kenapa sendirian di sini? Di mana orang tuanya?

Sementara, kalau ada anak yang berpenampilan, mohon maaf seperti anak pengemis/ pemulung, agak kumal, berhenti sendirian di pinggir jalan, untuk waktu yang cukup lama, hmm, sebentar aku bayangkan dulu...
Aku rasa, aku juga tak terlalu penasaran dan instingku secara spontan mungkin berkata, anak itu paling nunggu ortunya yang lagi ngemis atau mulung, maksudnya anak itu sudah terbiasa di jalan, karena nggak nangis.

Beda kasus lagi kalau misal anak itu nangis.
Empati yang muncul pasti beda lagi, mau anak-anak atau orang dewasa. Rasa penasaran pasti langsung ada, kenapa nangis, siapa yang nangis, ada apa?

Well, begitulah menurutku. Sedikit analogi terkait judul di atas, bagaimana kalau kita ganti subjeknya menjadi makanan, misal, tempe. Atau sayuran segar. Ambil contoh, wortel.
Tempe satunya dikemas daun pisang biasa, agak layu pula daunnya. Satunya dengan plastik berlabel dengan tulisan yang menarik.
Kalo disuruh milih cepat tanpa mikir, milih yang mana? Mungkin kebanyakan orang bakal milih tempe dengan kemasan plastik bagus.
Bagitupula dengan sayur wortel. Satunya berserakan, satunya dikemas bagus. Belum lagi misal faktor setting tempat.
Sama-sama tempe, satunya di pasar biasa, satunya di mall, modern market. Maka, harganya menjadi beda.

Begitulah, kemasan, alias apa yang nampak dari luar itu penting, sangat penting pada situasi tertentu.
Oh ya, satu lagi. Aku pernah lihat ada postungan yang cukup viral di IG, tentang penjual bakso dengan gerobak dorong yang memakai dasi dan sepatu fantofel hitam mengkilat saat berjualan. Penjualnya ramah pula. Baksonya mungkin nggak begitu enak, alias rasanya rata-rata dengan bakso abang penjual gerobak dorong lainnya. Tapi, dia memikat pembelinya dengan cara lain yang unik. Hehehe..

Silahkan simpulkan sendiri tulisan saya ini. Semoga bermanfaat 😊

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Aku Menjadi

Memulai Hari dengan Merapikan Tempat Tidur

Aku Menulis