Menu Spesial Malam Ini

Aku melongok ke dalam lemari pendinginku dengan prihatin. Kering meranggas seperti hutan di musim kemarau panjang. Tak ada hijau-hijaunya. Botolpun kosong melompong. Hanya sedikit yang terisi. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku lagi badmood berat. Jadi, mau ngapa-ngapain nggak ada seleranya. Nggak selera makan, nggak selera masak, termasuk nggak selera belanja. Hmmm.. mungkin karena si kecil sedang lagi nggak enak badan (ini juga ketularan emaknya).

Mungkin karena cuaca yang serba tak menentu. Sebentar panas, mendung, lalu hujan rintik-rintik sebentar, panas lagi lalu tiba-tiba mendung pekat disusul petir menggelegar menyambar-nyambar. Ah... Saat panas, tak kuasa menolak godaan minuman dingin walau itu air bening dari kulkas (padahal aku lagi menyusui, katanya kalo bisa hindari yang namanya ice, apapun bentuknya (es balok, air es, es cendol, es campur, es dawet, es krim, hmmm.. lho kok jadi mendaftar nama-nama es?) Tapiiii... eike gak kuat cyiin... dan akhirnya diriku gelap mata. Ah, satu teguk saja ga papa, lalu dua teguk, tiga teguk dan akhirnya tandas segelas besar. Lha, daripada mubadzir, khan? Halah.. Alasan! (Meringis sendiri sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal).

Oh ya, aku tersadar kembali kenapa sekarang aku mengintip isi lemari pendingin. Sebentar lagi, jam makan malam tiba dan meja makan di pojok dapur hanya menyisakan tudung saji berwarna coklat yang berdiri anggun disitu. Dan sayangnya, ia bukan tudung saji ajaib, yang bila dibuka sambil merapal kalimat sakti, maka terhamparlah berbagai makanan lezat di piring berukiran indah tanpa perlu repot-repot memasak.

Aku manyun sendiri memikirkan khayalan kreatifku yang tak masuk akal sama sekali. Hmm, sebenarnya kalau dipikir-pikir, aku punya kok tudung saji ajaib. Tapi bentuknya tidak sama dengan tudung saji di atas meja makan itu. Tudung saji ini bentuknya tipis saja dan tidak pakai rapalan kalimat sakti, tapi butuh beberapa kata kunci, kode ajaib dan nomor jitu. Kata kuncinya adalah menu-menu makanan yang menggugah selera, restoran terbaik. Kode ajaibnya adalah delivery order. Nomor jitu adalah nomor telepon dan nomor alamat rumah. Keh..keh..keh...

Lagi-lagi aku nyengir-nyengir sendiri dengan pikiran-pikiranku yang aneh-aneh itu. Hingga mataku beradu pandang pada sesuatu yang menyelamatkanku kewarasan diriku. Eureka! Aku menemukannya. Akhirnya, ternyata aku masih punya benda berharga di lemari ajaibku ini.

Kukeluarkan dengan hati-hati benda berharga itu. Benar, harus hati-hati sekali. Hey, jangan tertawa. Bukankah sudah kubilang ia benda yang berharga? Tergores sedikit apalagi sampai jatuh, tamatlah sudah riwayatku. Aku saja sampai menahan napas membawanya hingga meletakkan ia di tempat yang aman. Setelah yakin benda berhargaku benar-benar aman, barulah aku menarik nafas lega. Saatnya beraksi. Hihii...

Aku bersiul-siul sendiri sambil menimang-nimang si kembar merah dan putih serta beberapa temannya yang imut-imut. Setelah memandikan mereka, lalu kuajak mereka naik odong-odong biar senang dan lebih akrab satu sama lain. Fiuh...capek juga menemani mereka bermain odong-odong.

Kini, saatnya aku menemui pasukan terbaikku. Pasukan putih berhati mulia yang sudah menunggu dengan sabar sejak tadi siang. Kuajak mereka menari bebas di atas panggung megah nan mewah. Mereka pun bersorak-sorai gembira. Sebagai kejutan, aku menghadiahkan kepada mereka benda berhargaku yang kuambil dari lemari ajaibku. Mereka berteriak-teriak bahagia tak terkira. Lalu, beramai-ramai membuka benda berharga itu. Sang primadona bergaun putih dan kuning menawan keluar dengan anggun dari tempat semedinya. Segera berbaur dengan pasukan putih yang sudah sejak tadi bergoyang ria. Tentu saja, si kembar merah putih dan kawan-kawan imutnya tak ketinggalan ikut menari riang gembira bersama.

Aku tersenyum lebar menyaksikan mereka menari dengan riang gembira. Tingkah polos mereka membuatku jadi lebih semangat mengajak yang lain ikut serta juga. Si hitam manis, kejutan keduaku untuk mereka membuat penampilan mereka menjadi makin mempesona. Panggung bertambah ramai. Moodku membaik dan aku pun bertambah percaya diri.

Akhirnya, tarian kolosal di panggung megah nan mewah itu pun usai. Semua bertepuk tangan gembira. Terdengar siulan riuh rendah dari sana sini yang membuat suasana makin riang. Wajahku sendiri, memancarkan binar kebahagiaan.

"Ayaaang beeib, nasi gorengnya sudah mataaang. Kubawa ke depan ya.."teriakku dari dapur.
"Oke honey.." jawaban dari paksu yang sudah menungguku sedari tadi di depan televisi layar datar yang entah sedang menampilkan siaran apa.
Tak lama aku ikut bergabung dengannya. Kami berdua makan dengan lahap. Si kecil? Ia sudah terlelap sejak tadi.

@nine.nindya
Green Chamber in the morning


#ruangmenulis
#writingtresnojalaransokokulino
#komunitasmenulis21
#goresanpenakeenam
#tulisanbebas
#oktoberpekankedua
#postharisabtu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika Aku Menjadi

Memulai Hari dengan Merapikan Tempat Tidur

Aku Menulis